;

Bebek Goreng H. Slamet (Asli) - Menikmati diinvasi

Bebek Goreng Spesial Sambel Korek H. Slamet Asli, begitu tulisan yang terpampang di spanduknya. Masih ditambah dengan embel-embel cabang Kartosuro. Lokasi "warung"nya saat ini ada dua di Bogor. Satu berada di Bantarjati dan satu lagi di Jl. Sholeh Iskandar tepat di depan perumahan Bukit Cimanggu City di sebuah area yang berisi berbagai warung makan dan jajanan.

Saya berkenalan dengan bebek goreng versi H. Slamet ini di cabangnya yang pertama yaitu di dekat Air Mancur (bersebelahan dengan TK Kartika). Hanya kemudian pindah ke Bantarjati yang membuat saya sempat kehilangan karena tidak ada pemberitahuan. Sampai akhirnya menemukan tempat barunya di Bantarjati dan tidak berapa lama kemudian menemukan ada cabangnya lagi depan perumahan dimana saya tinggal.

Agak susah ternyata menemukan masakan bebek yang sesuai dengan selera. Sudah beberapa tempat dicoba dari mulai bebek goreng Echo Raos dan bebek Pak Ndut, hanya saya merasa lebih cocok dengan jenis makanan yang meng-invasi Bogor ini (lihat Bogor ter-invasi). Padahal kalau dilihat dari beberapa hal seperti tempat, mungkin pesaing-pesaingnya lebih bagus tempatnya. Warung (saya sebut warung saja yah) H. Slamet yang di depan rumah kesannya sangat sederhana dengan meja beralas mika dan bangku-bangku plastik ditambah beberapa kipas angin. Tidak ada yang spesial dari penampakan warungnya walau bersih.

Kertas menu-nya juga terlihat lecek dengan selotip di beberapa bagian. Terlihat coretan di bagian harga yang menunjukkan sudah terjadi penyesuaian belum lama ini. Kalau dilihatpun menunya tidak menawarkan apa-apa. Lha iya.. soalnya tidak ada banyak variasi makanan yang ditawarkan. Yang ada hanya bebek dan cuma satu versi di goreng tok!
Variasinya hanya, apakah mau pesan satu ekor, paha , dada atau kepala serta ampela ati. Semuanya hanya digoreng saja, tidak ada bebek sambel ijo kayak di Echo Raos atau Ayam Goreng seperti d Pak Ndut. Jadi kalau ke warung ini anda tidak akan punya pilihan lain selain bebek goreng. Tambahannya ada satu jenis saja, cuma itupun makanan gorengan juga, yaitu Mendoan alias tempe goreng lapis terigu yang lembek (terjemahan sendiri).

Lalu spesialnya dimana? Ya tidak tahu apalagi saya bukan pengamat kuliner dan lebih suka makanan rumahan. Semuanya serba sederhana termasuk bebek gorengnya sendiri. Hanya mungkin kesederhanaannya itu yang menjadi ciri khasnya. Nggak neko-neko.

Bebeknya sendiri renyah dan gurih. Empuk lagi! Beberapa kali makan masakan bebek di tempat lain banyak yang terasa berminyak dan agak "amis" hanya yang ini kok tidak seperti itu. Belum lagi biasanya masakan bebek agak alot/liat dan susah digigit. Begitu juga dengan mendoan-nya yang tidak terlalu tebal, tidak terlalu tipis dan tidak kering. Kalau dikombinasikan dengan nasi putihnya rasanya nikmat banget (buat saya dan keluarga lho). Jadi bisa dikata bebek goreng pak Slamet ini salah satu favorit kalau di rumah sedang tidak masak. Apalagi kalau ditambah dengan sambalnya yang pedas banget (apa selalu begitu ya masakan bebek karena di tempat lain sambalnya juga pedas banget).

Rupanya pak Slamet ini sudah merambah di banyak tempat. Waktu mudik ke Semarang dan Rembang pas lebaran kemarin, saya melihat cukup banyak warung pak Slamet di beberapa kota sepanjang perjalanan ke Semarang . Kalau tidak salah di Klaten, Demak dan beberapa kota lain sudah ada warung-warung bebek pak Slamet ini. Tidak aneh karena asalnya dari Kartosuro (sebuah kecamatan di Kabupaten Surakarta/Jawa Tengah). Hanya sayang sekali saat itu anggota rombongan yang lain tidak begitu suka masakan bebek , jadi tidak bisa mampir.

Hanya satu hal yang saya sayangkan. Ternyata masakan yang sederhana ini bukan buatan Bogor. Walaupun karyawan-karyawan yang melayani tentu orang Bogor, tapi kok yah masih merasa gimana gitu! Kok..masakan sederhana yang seperti ini saja harus mengimpor dari daerah lain. Tidak adakah orang Bogor yang mampu menghasilkan masakan yang seperti ini? Tidak neko-neko atau aneh-aneh. Sederhana tapi punya ciri khas.

Ya sudahlah sampai ada orang Bogor yang bisa menghasilkan hal sederhana ini, saya akan menikmati di-invasi oleh budaya/kebudayaan daerah lain toh masih sama-sama Indonesia. Kepikiran juga, mungkinkah ada warga Bogor yang bisa membujuk Pak Slamet untuk ganti nama warungnya jadi "Bebek Goreng Bogor"?



Share on Google Plus

About Anton Ardyanto

Terima kasih untuk berkenan membaca tulisan ini. Saya berharap ada yang dapat diambil dan dimanfaatkan dari tulisan ini. Kalau anda berkenan mohon luangkan waktu berharga anda sedikit lagi untuk memberikan sesuatu. Saran, masukan atau kritik akan sangat berharga bagi saya. Apalagi kalau anda berkenan share tulisan dari blog ini kepada yang lain.

Thank you for your time to read my writings. It means a lot to me. I really hope that there is something that you, the reader can take from my writing. I would be honored if you can spare a bit more of your precious time to let me have your comments or even your critics. I would be more than grateful if you can share something from this blog to other people.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

8 comments:

  1. semoga depot pak haji slamet bisa buka cabang di hongkong. Sambelnya mantaaaaab....
    pak Anton coba sekali2 bikin tulisan ttg BMI hongkong. sukses terus buat tulisannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha... sambelnya malah saya hindari.. pueedeesss banget...

      Hongkong.. owww... boleh tuh mbak, bisa bagi informasinya. Sayang saya sudah tidak kesana lagi (dulu beberapa kali kesana dan sempat memperhatikan rekan-rekan disana). Cuma sekarang lum ada kesempatan kesana lagi jadi susah dapet informasinya tuh. Kalau mbak bisa sharing informasi, saya coba deh...makasih mbak sudah berkunjung, salam buat rekan2 di Hkg

      Delete
  2. Bebek Goreng H. Slamet memang lezat...

    ReplyDelete
  3. Tiap daerah punya ciri khas makanannya sendiri-sendiri Om. Kalau orang Bogor nggoreng bebek bisa jadi bumbunya beda sama bikinannya orang Solo. Tapi yang kayak gini malah bagus toh Om? Nggak perlu jauh-jauh ke Solo cuma buat makan bebek, hehehe. Coba juga ada yg usaha makanan bogor di Jogja macamnya Taoge Goreng kan saya nggak perlu jauh-jauh ke Bogor. :p

    catatan: Sambel korek Pak Slamet ini enak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya itu maksudnya kangmas...:D Bogor kehilangan ciri khasnya. Pernahkah ada yang jual Laksa atau Toge Goreng di Solo atau Yogya. Bahkan di Bogor sendiri untuk mendapatkan kedua jenis makanan khas ini sudah sulit. Bogor dah terpengaruh gaya metropolis Jakarta sehingga tidak menjadi kreatif dalam banyak hal.

      Emang enak.. cuma ga tahan pedesnya...

      Delete
  4. Ayam Hj. Slamet memang uenak tenan... Apalagi ayam remuk nya, krenyess
    Belum lama ini buka di Bandar Lampung

    ReplyDelete
    Replies
    1. owww.. sudah merambah kesana ya mas.. selamat.. emang enak kok.. cuma di Bogor bebek saja ga ada ayam

      Delete