;

Lima Menit Saja ......

Gambar 1
Dulu , saya diajari ketika kuliah dalam pelajaran Ilmu Budaya Dasar bahwa salah satu ciri dari sebuah masyarakat yang ber-'peradaban'-an tinggi bisa dilihat dari tingkat kepatuhan anggota-anggota masyarakat tersebut dalam menjalankan aturan dan norma yang ada. Hal ini erat kaitannya dengan salah satu unsur peradaban yaitu organisasi sosial dimana semakin tinggi tingkat peradaban maka masyarakatnya akan semakin teratur juga. Berbagai telaah dan penelitian telah dilakukan untuk mendapatkan penjelasan mengenai hal ini yang membedakan mana masyarakat yang sudah beradab dan mana yang masih primitif (atau kurang beradab). Penelitian dan telaah kemungkinan besar sudah menghabiskan entah berapa ratus lembar kertas , entah berapa banyak biaya dan waktu dan entah sudah berapa banyak orang yang
dilibatkan.

Gambar 2
Hanya ternyata berbeda dengan proses pembentukan definisi "peradaban" yang rumit sepertinya mudah sekali menentukan sebuah masyarakat bisa disebut "beradab" atau "primitif" dalam kehidupan kita. Tak perlu berlembar-lembar kertas dibaca atau ditulis, tak perlu bongkar celengan di bank untuk biaya riset dan tidak perlu lama serta tidak perlu gelar apa-apa.

Saya hanya memerlukan bahkan kurang dari lima menit untuk bisa melihat warga Bogor termasuk dalam kategori yang mana. Biayanya hanya Rp. 5,000.- saja (bisa lebih murah lagi) dan dikerjakan sendiri. Caranya cukup naik angkot (saya pakai no 22 Merah) dan kalau bisa duduk di sebelah pak supir. Tidak perlu alat tulis walau kalau memang perlu bukti bisa pakai smartphone yang ada saja.

Gambar 3
Ada lima gambar dalam tulisan ini yang kesemuanya diambil hanya dalam rentang waktu kurang dari 5 menit. Kesemuanya menggambarkan hal yang sebenarnya mengenaskan. Semua gambar ini diambil di pintu perlintasan kereta api antara Jl Bubulak dan RE Martadinata pada 11 Oktober 2014 sekitar pukul 5 sore.

Gambar 4
Mulai dari gambar 1 sampai dengan gambar 5 menjelaskan bahwa organisasi sosial di Bogor tidak berjalan dengan baik bahkan bisa disebut hampir sama sekali tidak berjalan.  Berbagai hal yang menunjukkan ketidakpatuhan anggota masyarakat terhadap aturan terpampang dengan jelas. Mulai dari pelanggaran terhadap pemakaian helm sampai dengan mengendarai kendaraan melawan arus semuanya terjadi hanya dalam waktu kurang dari 5 menit. Entah sudah berapa banyak pasal aturan dalam UU Lalu Lintas dan UU mengenai kereta yang dilanggar secara bersamaan dan massal.

Gambar 5
Ironisnya lagi , lokasi ini berdekatan dengan Kantor Kepolisian Sektor Bogor Tengah yang hanya berjarak kurang dari 20 Meter. Tidak terlihat adanya petugas kepolisian melakukan penegakan hukum atau setidaknya mencegah pelanggaran terjadi. Semua seperti dianggap sebagai berjalan "normal"dan pengaturan arus lalu lintas disini diserahkan pada pihak "swasta" alias polisi cepek saja.

Tidak ada masyarakat yang bisa disebut "beradab" kalau organisasi sosialnya tidak berjalan dengan baik. Organisasi sosial bisa bergerak dengan baik ketika semua pihak baik yang diatur atau yang mengatur menjalankan perannya masing-masing untuk menuju sebuah peradaban yang lebih baik/tinggi. Foto-foto di tulisan ini tidak menunjukkan adanya sebuah organisasi sosial yang tertata dan terlaksana dengan baik dari banyak sisi.

Kesimpulan akhir akan saya serahkan pada para pembaca untuk menilai mengenai seberapa "tinggi"kah peradaban di Bogor.

Semuanya hanya perlu "Lima Menit Saja".......











Share on Google Plus

About Anton Ardyanto

Terima kasih untuk berkenan membaca tulisan ini. Saya berharap ada yang dapat diambil dan dimanfaatkan dari tulisan ini. Kalau anda berkenan mohon luangkan waktu berharga anda sedikit lagi untuk memberikan sesuatu. Saran, masukan atau kritik akan sangat berharga bagi saya. Apalagi kalau anda berkenan share tulisan dari blog ini kepada yang lain.

Thank you for your time to read my writings. It means a lot to me. I really hope that there is something that you, the reader can take from my writing. I would be honored if you can spare a bit more of your precious time to let me have your comments or even your critics. I would be more than grateful if you can share something from this blog to other people.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

10 comments:

  1. Kereeeen, bisa mengakumulasi Bogor dalam 5 menit.
    Tapi benaran semuanya, menggambarkan Kota Bogor sesungguhnya :)

    ReplyDelete
  2. Hahaha...yang 36 tahunnya ga disebutin aja..makasih mbak tuk berkunjung

    ReplyDelete
  3. kadang ga nyampe lima menit kok...

    ReplyDelete
  4. hahahaha iya kang.. kurang dari lima menit juga buanyakk

    ReplyDelete
  5. haduhh tersentil baca ini postingan , huhuhuhu..

    ReplyDelete
  6. Waduh maaf kang lapak medan ga maksud...tapi bener kan kalu melanggar aturan bisa dikategorikan primitif :-)

    ReplyDelete
  7. setuju banget. memang demikian adanya. tidak hanya di bogor, di kota lain pun banyak. Hanya memang di bogor ini parah. Di perlintasan kereta Martadinata itu motor sering menumpuk di sisi kanan padahal bukan jalurnya. Mereka enggan mengantre hingga panjang. Walhasil, pernah saya jumpai, lalu lintas tak bergerak karena dari dua arah saling menyerang ke depan. Lalu kereta pun datang. Mereka panik dan sebagian mundur. Untung ga sampe ketabrak kereta.
    Bukan hanya sekali, berkali-kali. Dan enahenya memang dekat dengan kantor polisi.
    Ah, tertib lalu lintas memang tidak penting bagi kita....

    ReplyDelete
  8. Wahhh akang tau bgt situasi disana.. tinggal di Bogor juga yah.. ampuun kang memang disana mah...Makasih dah berkunjung, kalu ada saran atau ide tolong dibantu ya kang.

    ReplyDelete
  9. lima menit saja lagu dong itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi bro... mungkin terinspirasi lagu di angkot yang dipake..:D

      Delete