;

REBO NYUNDA ... LALU?

Rebo Nyunda, sebuah upaya untuk melestarikan nilai-nilai budaya Sunda di tanah Pasundan dimulai dari ibukota Jawa Barat, Bandung. Gerakan tersebut kemudian diikuti oleh Garut dan akhirnya di bulan Nopember ini Pemda Kodya Bogor mulai memberlakukan penerapan gerakan ini di lingkungannya. Selain di lingkungan kantor pemerintahan , gerakan ini menurut berita juga mulai dicoba dibeberapa sekolah di Kodya Bogor.

Sebuah gerakan dan kebijakan yang perlu diapresiasi oleh seluruh warga Bogor karena menunjukkan perhatian pemerintah terhadap kebudayaan Sunda di Bogor ini. Walau masih dalam lingkungan yang terbatas, hal ini sudah mencerminkan sebuah upaya dan dukungan terhadap upaya untuk mencegah semakin terkikisnya kebudayaan tradisional.

Hanya timbul satu pertanyaan... LALU? Ya, itu pertanyaannya. Disingkat dari pertanyaan lengkapnya "LALU LANGKAH SELANJUTNYA APA?"

Pertanyaan itu timbul karena apabila Pemerintah Daerah Kodya Bogor berpikir bahwa langkah tersebut sudah cukup untuk mempertahankan budaya Sunda di Bogor, maka bisa dikata mereka melakukan kesalahan . Kesalahan yang timbul karena memandang sebuah budaya atau kebudayaan sebagai sebuah hal yang bisa ditanamkan hanya dengan menyuruh sekelompok pegawai memakai baju tradisional sehari dalam seminggu. Budaya atau kebudayaan dipandang sebagai sesuatu yang statis yang secara otomatis akan menarik minat orang lain untuk meniru. Bagaikan sebuah toko yang baru berdiri berharap akan langsung ada banyak pengunjung.

Gerakan ini kemungkinan bisa berhasil tanpa ada modifikasi atau langkah lanjut di Bandung atau Garut, seperti juga gerakan Kamis berbeskap di Solo . Di kota-kota ini masyarakatnya masih kental memakai tradisi dan budaya masing-masing dalam keseharian. Ditambah masyarakatnya yang didominasi oleh suku Jawa di Solo dan suku Sunda di Bandung dan Garut. Gerakan ini bertujuan untuk "melestarikan" yang sudah ada dengan masyarakat yang memang merupakan "pendukung" budaya mereka. Bandingkan dengan kemajemukan masyarakat di Kodya Bogor (bahkan Kabupaten Bogor sekalipun) . Ada berbagai macam suku bangsa di Bogor dan masing-masing membawa bahasa dan budayanya sendiri. Kemajemukan Bogor mirip dengan Jakarta. Hal ini tidak mengherankan mengingat semakin banyaknya jumlah pendatang dari Jakarta yang memilih Bogor sebagai tempat tinggal mereka.

Kemajemukan ini berakibat masyarakat pendukung budaya Sunda harus berkompromi setiap hari dengan pendukung budaya-budaya lain. Titik temu alias yang bisa membuat nyaman semua pihak adalah memakai budaya "Indonesia". Hanya pada akhirnya ke-Sunda-an di Bogor terkikis secara perlahan.

Ada beberapa hal lagi yang menyebabkan budaya/kebudayaan Sunda terkikis di Bogor selain kemajemukan masyarakatnya, yaitu

1. Ekonomi

    Para pendatang cenderung memiliki kemampuan ekonomi yang lebih kuat dibandingkan dengan masyarakat pendukung budaya Sunda di Bogor. Perekonomian adalah salah satu tiang utama dari sebuah budaya atau kebudayaan untuk bertahan. Dalam hal ini masyarakat pendukung budaya Sunda akhirnya harus bergeser semakin ke pinggir ketika tanah mereka dibeli untuk dibuat rumah atau bangunan untuk usaha.

2. Perubahan cara pandang

    Derasnya informasi dan tayangan mengenai budaya luar , terutama dari "Barat" yang "modern" membuat budaya/kebudayaan Sunda menjadi terlihat tidak "cool". Kelincahan gerak , kepraktisan dan gemerlapnya Jakarta juga memikat banyak masyarakat Bogor bahkan sampai ke kampung-kampung sekalipun. Tayangan-tayangan ini membuat budaya / kebudayaan Sunda terlihat tidak "cool" terutama di kalangan kaum muda di Bogor. Kaum muda lebih suka disebut mirip dengan Justin Bieber & Selena Gomes dibandingkan dengan Kang Kabayan dan Nyi Iteung.

3. Kota Bogor sebagai tujuan wisata serta sebagai kota jasa dan perdagangan

    Dengan 3 juta lebih wisatawan domestik/asing yang masuk memaksa masyarakat Bogor harus berinteraksi dalam bahasa yang dimaui oleh wisatawan. Belum ditambah berbagai bisnis dan transaksi kebanyakan harus memakai bahasa Indonesia atau bahasa asing.

Kesemuanya ini sudah bertahun-tahun secara tak disadari menggerus budaya/kebudayaan Sunda di Bogor. Bisa dikata di semua lini budaya/kebudayaan Sunda "kalah" bertarung dengan budaya/kebudayan lain di tanahnya sendiri. Kebudayaan Sunda bisa diibaratkan seperti Manchester United atau Liverpool yang kalah terus sehingga menyebabkan banyak pengusungnya atau calon pengusungnya tidak melihat daya tarik dari budaya itu sendiri. Untuk apa mendukung sebuah budaya yang tidak memberi tidak bisa memberi nilai tambah bagi mereka. Mungkin terdengar kasar hanya begitulah logika bagi kehidupan manusia di zaman ini. Kecuali para pendukung fanatis, budaya ini apabila terus seperti itu akan ditinggal oleh pengusungnya dan tidak akan diminati oleh bakal calon pengusung. Mereka enggan meng-identifikasi diri mereka dengan sesuatu yang tidak memberikan apa-apa bagi dirinya.

Oleh karena itulah mengapa Rebo Nyunda akan merupakan gerakan yang sia-sia di Bogor kalau tidak ditindaklanjuti dengan langkah-langkah lain. Apakah Rebo Nyunda akan memberikan nilai tambah bagi masyarakat secara keseluruhan? atau apakah Rebo Nyunda bisa menimbulkan ketertarikan masyarakat untuk meniru? Belum lagi kalau diperhitungkan bahwa masa jabatan seorang walikota terbatas dan belum tentu penerusnya akan mau melanjutkan kebijakan yang ada sekarang.

Penulis merasa bahwa harus ada langkah-langkah selanjutnya dari Pemerintah Daerah Kodya Bogor kalau memang tujuan utamanya adalah melestarikan nilai-nilai Ke-Sunda-an di Bogor. Target utamanya harus bertujuan untuk menimbulkan "KEBANGGAAN" dan sebuah "NILAI TAMBAH" dari memakai nilai-nilai  dan budaya Sunda di Bogor. Tanpa itu maka sulit menarik minat masyarakat.

Pemda Kodya Bogor sebenarnya sudah disediakan beberapa contoh dari berbagai daerah, seperti :

1. Jakarta punya Pekan Raya Jakarta yang setelah diambil alih kembali oleh pemerintah DKI Jakarta, wujud asli Pekan Raya Jakarta muncul yaitu untuk melestarikan budaya tradisional Betawi. Pemda Kodya Bogor harus mempertimbangkan untuk membuat hal serupa untuk mendukung masyarakat tradisional.

2, Pernah ingat Rumingkang? Sebuah grup tari Jaipong asal Bandung yang walau tidak menjadi nomor satu sempat menggairahkan banyak orang dengan penampilan mereka di layar televisi. Dalam hal ini Pemda Bogor harus melakukan hal serupa untuk mendukung tampilnya kesenian-kesenian khas Bogor/Sunda di kancah nasional dan bahkan Internasional.

3. Batik? Sepertinya tidak perlu dijelaskan lebih panjang soal yang satu ini karena sudah menjadi warisan dunia. Usaha keras semua pihak bisa membuat Batik menjadi warisan dunia.

Pemerintah Daerah Kodya Bogor harus menjadi marketing yang agresif bagi budaya Sunda kalau memang bertujuan untuk mempertahankan budaya Sunda. Melakukan hal yang sifatnya statis seperti Rebo Nyunda adalah bagus tapi akan lebih baik apabila dikembangkan lagi dengan berbagai kegiatan seperti (ide penulis)

- Merubah metode pengajaran bahasa Sunda di Bogor. Metode pengajaran yang baru harus menarik , semenarik para guru bahasa Inggris dengan tehnik-tehnik pengajaran yang modern. Jangan hanya menugaskan guru yang bisa berbahasa Sunda untuk mengajarkan bahasa ini. Kalau bahasa Inggris bisa dibuat menarik seharusnya bahasa Sundapun demikian.

- Mengadakan gelar kesenian secara rutin. Selama ini gaung kesenian Sunda meredup karena tidak ada usaha-usaha untuk menarik minat masyarakat dan tidak adanya kegiatan rutin yang menampilkan kesenian Sunda . Padahal dengan jumlah 3 juta lebih wisatawan seharusnya selain bisa mempertahankan kesenian Sunda, hal ini bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Pada ujungnya bisa memberikan lapangan kerja baru bagi banyak orang.

- Mengadakan PEKAN NYUNDA BOGOR , jadikan mirip VISIT BOGOR setiap bulan tertentu . Pekan ini bisa diisi dengan berbagai kegiatan kesenian, pameran tentang kebudayaan dan lain-lain yang berkaitan dengan Bogor dan Sunda. Tambahan daya tarik bisa bekerja sama dengan para pelaku usaha berupa pemberian diskon bagi para pendatang yang mampu berbahasa Sunda dalam melakukan transaksi dan berinteraksi. Jadikan sebuah event special yang akan diingat semua orang.

Masih banyak cara lain yang bisa dilakukan sebagai langkah lanjut REBO NYUNDA. Hanya membutuhkan pemerintah daerah yang mampu menjadi marketer agresif dan kreatif bagi budaya Sunda. Pemda Bogor harus jadi ujung tombak untuk mempertahankan dan memasarkan budaya Sunda di Bogor.

Hanya tentu pemda tidak bisa berjalan sendirian karena tanpa dukungan masyarakat pengusungnya sulit untuk bisa melakukan secara konsisten. Lalu apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat pengusung budaya Sunda di Bogor? Selain mendukung berbagai kebijakan pemda dalam hal ini, masyarakat Bogor yang sudah tidak asing dengan internet seharusnya bisa memanfaatkan kemampuan mereka untuk memperkenalkan budaya Sunda itu sendiri ke dunia luar. Banyak dari masyarakat Bogor yang menguasai tiga atau empat bahasa termasuk bahasa Sunda dan Indonesia + bahasa Asing. Kemampuan bilingual atau trilingual dan kemampuan berinternet tersebut bisa dimanfaatkan untuk memperkenalkan budaya Sunda ke dunia luas. (Hanya mengherankan , saya hampir tidak menemukan sebuah website atau blog yang mengajarkan bahasa Sunda. Yang menulis dalam bahasa Sunda ada beberapa hanya mereka tidak memperkenalkan tapi hanya berbicara untuk kalangan sendiri yang sudah mengerti bahasa Sunda.*)

Tanpa ada upaya dari semua pihak di Bogor, maka langkah awal Rebo Nyunda tidak akan menghasilkan apa-apa selain sebuah gerakan kosmetik.


*Catatan : blog ini memiliki bagian yang disebut English Edition dan ternyata sampai dengan hari ini dari seluruh jumlah pengunjung ternyata 40% berasal dari luar Indonesia. Bisa bayangkan kalau 10-100 pengusung budaya Sunda Bogor membuat blog soal budaya Bogor (dalam bahasa asing), berapa orang yang membaca dan berapa orang yang akan tertarik belajar. Sayangnya penulis tidak menguasai bahasa Sunda dengan baik karena hanya belajar dari keseharian.




































Share on Google Plus

About Anton Ardyanto

Terima kasih untuk berkenan membaca tulisan ini. Saya berharap ada yang dapat diambil dan dimanfaatkan dari tulisan ini. Kalau anda berkenan mohon luangkan waktu berharga anda sedikit lagi untuk memberikan sesuatu. Saran, masukan atau kritik akan sangat berharga bagi saya. Apalagi kalau anda berkenan share tulisan dari blog ini kepada yang lain.

Thank you for your time to read my writings. It means a lot to me. I really hope that there is something that you, the reader can take from my writing. I would be honored if you can spare a bit more of your precious time to let me have your comments or even your critics. I would be more than grateful if you can share something from this blog to other people.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment