;

Jalan : M.A. SALMUN

Jalan M.A. Salmun adalah salah satu yang pertama saya telusuri pada awal mula membuat blog ini. Dua buah tulisan lahir hasil nongkrong disini salah satunya adalah Becak. Fotonya pula saya jadikan sebagai foto background account saya di Google+. 

Ada banyak cerita dalam kehidupan saya , terutama semasa Sekolah Menengah Pertama disini. Salah satu diantaranya kisah "cinta monyet" ala anak SMP. 

Jalan MA Salmun adalah jalan yang harus dilalui kalau kita menuju Pasar Anyar dari arah Jalan Merdeka . Di tengah bagiannya bertemu dengan Jalan Ciwaringin dan Jalan Mayor Oking. Di tengah jalan terdapat sebuah jembatan yang sekarang dicat merah sehingga banyak pengunjung salah duga jembatan ini sebagai Jembatan Merah.

Belakangan ini Pemda Kodya Bogor mengalami banyak kesulitan dalam menata jalan ini. Perkembangan Pasar Anyar yang abnormal merambah memasuki jalan yang tidak termasuk wilayah yang dijadikan area perdagangan. Ratusan kios sempat menutup akses jalan ini. 

Berbagai usaha penataan dan penertiban masih sering terbentur oleh kebandelan para Pedagang Kaki Lima.

Jalan ini ditahbiskan dengan nama yang mungkin terdengar asing bagi banyak orang. Dia bukanlah nama pahlawan nasional seperti jalan Sudirman atau Ahmad Yani. Namnya juga kurang begitu akrab bahkan bagi orang Bogor sendiri.

Siapakah M.A. Salmun itu? Mengapa namanya diabadikan sebagai nama jalan ini.

M.A. Salmun tidak pernah mengangkat bedil alias senjata. Beliau adalah seorang pujangga pada masanya. Selama hidupnya dia tercatat telah melahirkan kurang lebih 480 karya tulis  (yang tercatat dan pernah diterbitkan). Karyanya berbagai macam mulai dari cerita pendek , prosa dan puisi yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan Sunda

Dilahirkan pada tahun 1903 dari seorang ayah asisten wedana di Rangkasbitung dan seorang ibu keturunan bangsawan Lebak membuat dia diberi nama lengkap Mas Atje Salmun. Mas adalah gelar kebangsawanan tingkat rendah di Karesidenan Banten masa lalu. Nama lengkapnya adalah Mas Atje Salmun Rasadikaria.

Darah ke-pujangga-an yang dimiliki Salmun sepertinya memang mengalir dari kedua orangtuanya. Ayahnya Mas Abusa'id Rakyadikaria adalah seorang Kamidi atau penulis sandiwara di masa itu. Ia juga seorang penari ulung. Ibunya Nyi Mas Samayi walaupun tidak pernah bersekolah mampu berbicara dalam bahasa Sunda, Jawa, Kawi dan Melayu serta juga menguasai sedikit bahasa Tionghoa, Belanda dan Arab. Sang ibu adalah tempat bertanya para sarjana Belanda karena juga menguasai berbagai pustaka klasik masa itu. 

Yang membuat kagum dari MA Salmun adalah sebuah kenyataan bahwa dia adalah pujangga dengan keterbatasan. Penglihatannya terganggu sampai hampir tidak bisa melihat. Hanya ternyata keterbatasan itu tidak menyurutkan sisi kreatif dari dia. Paling tidak 173 buah cerita pendek diterbitkan di berbagai media masa tersebut. Sebuah angka yang fantastis mengingat dia hampir tidak bisa menggunakan indera matanya yang sangat vital bagi seorang pujangga.

Tulisan pertamanya terbit di Volksalmanak Soenda. Hasil karyanya juga diterbitkan oleh Balai Poestaka dan Mangle (majalah berbahasa Sunda). Salah satu hasil karyanya mungkin juga pernah dibaca oleh anda yaitu mengenai Legenda Ciung Wanara yang diterbitkan tahun 1939.

Selain menulis, beliau juga berperan pada lahirnya berbagai majalah berbau Sunda di Bogor . Majalah Sunda Tjandra tahun 1954 dan majalan Panglipur Mangle tahun 1957 adalah dua dari beberapa majalah ke-Sunda-an yang dibidaninya semasa hidupnya. Serta masih banyak lagi peranannya dalam membangun kesusasteraan Sunda di Bogor dan juga Indonesia.

MA Salmun wafat tahun 1972 dan dimakamkan di pemakaman Blender.

Beliau memang tidak pernah menembakkan satu buah pelurupun semasa hidupnya. Tidak pernah pula maju ke medan pertempuran melawan pemerintah kolonial. Tangannya hanya aktif mengayunkan pena dan membuat tulisan. Walaupun demikian, apa yang telah dibangunnya semasa hidupnya tidak kurang bobotnya dengan yang dilakukan oleh para pejuang lain.

Oleh karena itu pantaslah rasanya namanya disematkan pada sebuah jalan di kota hujan ini. 

Sayangnya jalan ini sampai sekarang masih menjadi sebuah lahan pertarungan antara "kebutuhan" perut dan "kepatuhan" terhadap aturan dalam masyarakat. Masing-masing pihak seperti terilhami oleh kegigihan MA Salmun dalam berkarya di tengah keterbatasan.





Catatan

- untuk menuju jalan MA Salmun dapat menggunakan angkot 02 / 03 / 12 merah yang akan berbelok di depan toko Sinar Sari Mayor Oking

- berbagai pertokoan terdapat dipinggiran jalan 

- informasi didapat dari berbagai literatur
 














Share on Google Plus

About Anton Ardyanto

Terima kasih untuk berkenan membaca tulisan ini. Saya berharap ada yang dapat diambil dan dimanfaatkan dari tulisan ini. Kalau anda berkenan mohon luangkan waktu berharga anda sedikit lagi untuk memberikan sesuatu. Saran, masukan atau kritik akan sangat berharga bagi saya. Apalagi kalau anda berkenan share tulisan dari blog ini kepada yang lain.

Thank you for your time to read my writings. It means a lot to me. I really hope that there is something that you, the reader can take from my writing. I would be honored if you can spare a bit more of your precious time to let me have your comments or even your critics. I would be more than grateful if you can share something from this blog to other people.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment