;

BOGOR TRANS PAKUAN : Asa yang semakin meredup

Trans Pakuan di depan Bogor Indah Plaza
Tidak lama setelah beroperasinya si busway alias bus TransJakarta , beberapa kota di Indonesia mulai mencoba menerapkan hal yang sama. Bogor adalah salah satunya dengan melahirkan angkutan masal dengan nama yang mirip yaitu Trans Pakuan.

Trans Pakuan lahir 3 tahun setelah saudara tuanya di Jakarta lahir. Tepatnya di bulan Januari 2007. Konsep si busway yang mengedepankan keteraturan, ketertiban dan pelayanan terhadap penumpang dicoba untuk diadopsi dan diterapkan. Bedanya dengan si busway adalah tidak adanya jalur khusus untuk bis melaju. Kemudian jenis bis yang dipakai adalah jenis bis 3/4 (sama seperti Kopaja atau Metromini) dan pembayaran masih bisa dilakukan di atas bis.

Dioperasikan oleh Perusahaan Daerah Jasa Transportasi (PDJT), Trans Pakuan memulai dengan hanya satu koridor yaitu dari Terminal Bubulak - Jalan Abdullah bin Nuh - Jalan Sholeh Iskandar - Warung Jambu- Jalan Pajajaran - Jalan Cidangiang (di belakang Botani Square Garden). Sepuluh buah bis hibah dari Dirjen Perhubungan Darat dioperasikan pada awalnya untuk melalui rute ini. Dua tahun kemudian koridor ke 2 yang melayani Jalan Cidangiang - Rancamaya beroperasi dan dilanjutkan dengan Koridor 3 Jalan Cidangiang - Mall Bellanova (Sentul beroperasi). Jumlah total bis yang beroperasi adalah 30 buah.

Pada awalnya transportasi ini mendapatkan sambutan hangat dari warga Bogor. Warga Bogor berharap Trans Pakuan dapat memberikan hal yang sama dengan si busway. Kenyamanan, ketertiban, keteraturan dan ongkos yang terjangkau. Bahwa Trans Pakuan tidak berhenti di sembarang tempat dan hanya di halte yang ditentukan, tidak terdengar warga mempermasalahkan hal tersebut. Saya sendiri sempat berharap bahwa moda transportasi ini bisa menggantikan pola usang dari sistem angkot.

Hanya harapan tersebut ternyata sepertinya bak menggantang asap. Kondisi moda transportasi ini terlihat tidak seperti pada awalnya. Jumlah bis yang menyusut menyebabkan waktu tunggu menjadi lebih lama. Padahal jumlah penumpangnya bertambah mencapai lebih dari 1 juta orang di tahun 2013. Kondisi bis sendiri menunjukkan kurangnya perawatan (seperti yang terlihat ketika mengunjungi terminal Bubulak). Belum termasuk halte di berbagai koridor yang rusak disana-sini.
 
Setelah hampir 8 tahun beroperasi ternyata perkembangannya justru menunjukkan grafik menurun. Kenyamanan yang semakin berkurang. Waktu tunggu yang semakin lama. Pada akhirnya mendorong masyarakat untuk kembali ke cinta lama si angkot (yang jumlahnya tak kunjung berkurang) atau si cinta baru, sepeda motor.

Harapan yang dulu pernah membuncah perlahan meredup dan semakin meredup seiring dengan tidak adanya perkembangan dari Trans Pakuan. Beberapa kali terdengar rencana-rencana untuk memperbaiki pelayanan tetapi apa yang terjadi di lapangan sama sekali tidak menunjukkan realisasi ke arah sana. Termasuk rencana pembukaan rute baru yang melewati Jalan Juanda. Semua terus berkutat pada taraf wacana.

Belum lagi kabar tidak mengenakkan mengenai PDJT yang harus terus disubsidi oleh APBD Kota Bogor. Perusahaan ini terus merugi dan harus ditomboki oleh pemerintah.

Kesemuanya semakin mengindikasikan masa depan yang suram bagi perkembangan transportasi di Bogor. Satu-satunya kabar yang mencegah semakin terkikisnya harapan masyarakat adalah bahwa walikota baru Bogor, Bima Arya akan mengevaluasi hal yang terkait dengan Trans Pakuan. 

Sampai hari ini Trans Pakuan memang masih berjalan seperti biasa. Tarifnya masih tetap Rp. 4,000.- rupiah. Hanya apabila situasi ini terus berlanjut tanpa ada perkembangan yang berarti bisa dipastikan dalam beberapa tahun kedepan armadanya akan semakin menyusut. Fasilitasnya akan terus memburuk (seperti yang sudah terlihat di halte-haltenya dan terminalnya) dan pada akhirnya pelayanan terhadap masyarakat akan semakin memburuk.

Bila pada awalnya dimulai dengan meniru apa yang dilakukan di Jakarta, Pemda Kota Bogor juga meniru usaha Pemprov DKI Jakarta untuk memperbaiki pelayanan di Trans Jakarta. Banyak warga Bogor berharap hal yang sama juga dilakukan pada Trans Pakuan.

Meniru bukanlah hal yang kreatif. Hanya dalam hal ini meniru bukanlah hal yang buruk demi mencegah semakin meredupnya harapan masyarakat akan transportasi yang nyaman, tertib, teratur , terpercaya dan terjangkau. Semoga!

Catatan :

Rute Koridor 2 Trans Pakuan  :

Jalan Cidangiang - Jalan Pajajaran - Tajur - Ciawi - Perumahan Rancamaya

Rute Koridor 3 Trans  Pakuan

Jalan Cidangiang - Jalan Pajajaran - Warung Jambu - Toll Lingkar Luar Bogor - Mall Bellanova Sentul City


Share on Google Plus

About Anton Ardyanto

Terima kasih untuk berkenan membaca tulisan ini. Saya berharap ada yang dapat diambil dan dimanfaatkan dari tulisan ini. Kalau anda berkenan mohon luangkan waktu berharga anda sedikit lagi untuk memberikan sesuatu. Saran, masukan atau kritik akan sangat berharga bagi saya. Apalagi kalau anda berkenan share tulisan dari blog ini kepada yang lain.

Thank you for your time to read my writings. It means a lot to me. I really hope that there is something that you, the reader can take from my writing. I would be honored if you can spare a bit more of your precious time to let me have your comments or even your critics. I would be more than grateful if you can share something from this blog to other people.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

4 comments:

  1. Melihat ulasan di blog ini seperti melihat langsung berwisata ke bogor.. nice...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mas.. supaya pengunjung bisa jalan-jalan ke Bogor walau cuma lewat dunia maya

      Delete
  2. wah, jaman saay kuliah di Bogor belum ada tuh. Tapi apa bus itu gak tambah bikin macet. waktu saya reuni saja , macet sekali

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lulusan tahun berapa mbak.. Tujuan awalnya buat gantiin angkot mbak, cuma ya itu tadi akhirnya angkot tetap penuh, yang ini tidak terurus

      Delete